Sejarah Nagari Rao Rao

VERSI IV

Adapun versi ini menyatakan bahwa nama Rao-Rao berasal dari kata ( suara ) kucing yang meraung/berbunyi berkerut-kerut/berkepanjangan. Menurut mereka dulu saat rombongan dari Pariangan pergi mencari tanah untuk pemukiman karena Pariangan sudah terasa penuh, maka berangkatlah satu rombongan mencari tanah/tempat yang baik untuk pemukiman. Mereka pergi menyisiri pinggiran / lereng merapi arah timur. Sampailah mereka pada puncak bukit yang tinggi. Dari sana mereka mengedarkan pandangan. Pandangan jauh dilayangkan, pandangan dekat ditukikkan. Akhirnya mereka melihat seperti awan yang bergulung-gulung dikejauhan. Setelah diamati lebih teliti, ternyata itu bukan awan tapi asap dari pembakaran. Akhirnya mereka sepakat mencari asal asap tersebut.

Setelah jauh berjalan mereka dalam perjalanan bertemu dengan seekor kucing yang sedang Marao. Mulanya mereka mengira kucing tersebut adalah kucing hutan dan liar. Ternyata setelah didekati, kucing tersebut tak lari, malah kelihatan jinak seperti kucing peliharaan. Melihat hal ini, mereka tambah yakin bahwa asap tadi asalnya dari perkampungan. Serentang perjalanan kemudian mereka bertemu dengan orang sedang membakar jerami disawah. Setelah didekati dan ditanya orang yang membakar jerami tadi membawa mereka ketengah perkampungan untuk bertemu dengan tetua-tetua kampung.

Ternyata kampung tersebut sudah ramai dan tersusun rapi membuat rombongan tersebut kagum. Disana mereka bertemu dengan sesepuh dan pimpinan daerah itu. Setelah bertemu merekapun tambah heran karena daerah tersebut dipimpin oleh seorang PUTI ( putri ) yang masih gadis yang diwarisinya turun temurun secara garis ibu sejak zaman yang sudah lama sekali berlalu. Akhirnya rombongan dari pariangan tersebut bertanya apa nama daerah ini dan darimana asal mereka. Berdasarkan penuturan penduduk tersebut, tempat mereka disebut Pasumayam Koto Batu.

Pasumayam itu artinya tempat tinggal dan hidup, kemudian mereka banyak memakai alat dari batu dan menandai sesuatu dengan batu. Sampai saat ini nama-nama yang memakai kata batu masih ditemui seperti “ Batu Tagak, batu congkak, batu kudo, batu baiduang, batu banyak, batu caturan, batu jonjang, batu lombuk, batu udi, batu balaki, batu loweh, batu sandaran rajo, batu batuah, batu ajuang, batu baririak, tabiang batu mejan, batu kurisi, losuang batu dan sebagainya.

Adapun asal mereka dari arah matahari terbenam, setelah melewati lautan luas didaerah yang banyak gurun dan daratan yang dilalui. Sedangkan keturunan /kaum dari Puti tersebut kemudian lebih dikenal dengan kaum Dt. Rajo Nan Paik. Dan Puti tersebut dikenal dengan sebutan Puti Rao-Rao.

Menurut mereka Rao-Rao itu disebut untuk mengenang suara kucing saat mereka pertama kali sampai didaerah tersebut. Hal ini bisa dipertimbangkan kembali, mengingat warga Rao-Rao secara umum tak menyukai suara kucing Marao tersebut. Bahkan kata Marao tersebut kedengaran janggal jika disebut Marao-Rao.Bahkan warga Rao-Rao lebih menyukai suara/kicauan burung dari pada suara kucing Marao, Sehingga kecil kemungkinnya mereka menyukai nama tersebut

Last Updated ( Saturday, 04 December 2010 05:18 )